Ini fenomena aneh yang lagi terjadi di Indonesia.
Di satu sisi, jumlah pencari kerja terus naik. Data BRIN mencatat total pencari kerja melonjak dari 7,8 juta orang di 2019 menjadi 11,7 juta orang di 2024. Bahkan ada 2,7 juta orang yang masuk kategori "hopeless" atau menyerah cari kerja, naik drastis dari cuma 883 ribu di 2019.
Di sisi lain, pengusaha justru teriak kekurangan orang.
Menaker sendiri pernah mengungkapkan, 56,3% perusahaan di Indonesia mengaku kesulitan mencari tenaga kerja dengan kemampuan digital.
Bukan karena tidak ada orang. Tapi karena skill-nya tidak nyambung.
Ditambah lagi, data Kemnaker per September 2026 menunjukkan masih ada 81.171 lowongan aktif di Karirhub dari 32.086 perusahaan, tapi banyak yang mensyaratkan batasan usia, ijazah, dan sertifikasi yang bikin tidak semua orang bisa masuk.
Artinya apa?
Pasar kerja kita kelebihan orang dengan skill umum, tapi kekurangan orang dengan skill yang laku: jualan, komunikasi, leadership.
Kalau kamu terus main di lapangan yang sama dengan 11,7 juta orang lain, dengan skill yang sama, ya wajar kalau saingannya berat dan gajinya segitu-gitu aja.
Di industri asuransi dan financial consultant, justru skill yang dicari perusahaan-perusahaan itu adalah skill utama kita.
Di sini kamu tidak dinilai dari umur atau ijazah. Kamu dinilai dari seberapa jago kamu bantu orang lain aman secara finansial.
Belajar selling dan public speaking yang 56,3% perusahaan itu lagi cari.
Dibayar berdasarkan hasil, bukan absen.
Bukan menunggu 5 tahun baru jadi supervisor.
Tim kami membuka 5 slot mentoring bulan ini untuk yang mau belajar jadi pengusaha di bidang proteksi keuangan. Dari nol, diajarin cara ngobrol, cara presentasi, cara bangun tim.
Ini bukan lowongan kerja. Ini lowongan belajar jadi pengusaha.
Kalau kamu capek saingan di lapangan yang sesak, saatnya pindah lapangan.
Ceritakan kondisimu sekarang, biar kami bantu lihat apakah ini lapangan yang cocok buat kamu pindah ke sini.
